Inovasi Perusahaan Sukanto Tanoto Demi Efisiensi dan Kelestarian Alam

Sumber: kumparan.com

Perusahaan berbasis alam memiliki tanggung jawab moral yang cukup besar dalam menjaga kelestarian lingkungan. Berkat alam bisnis bisa berjalan. Atas dasar inilah, Sukanto Tanoto dan grup bisnis yang ia pimpin, yakni Royal Golden Eagle (RGE) merasa memiliki tanggung jawab besar untuk membalasnya lewat kontribusi nyata, baik kepada alam maupun lingkungan sekitar.

Kontribusi perusahaan Sukanto Tanoto kepada alam dilakukan dengan beberapa cara. Selain melalui sosialisasi akan bahaya karhutla dan melakukan restorasi lingkungan, Royal Golden Eagle (RGE) juga terus berinovasi demi meningkatkan efisiensi produksinya. Melalui efisiensi inilah, perusahaan Sukanto Tanoto meringankan alam dari eksploitasi berlebihan hingga meminimalisir produksi limbah yang dapat merusak lingkungan.

Efisiensi untuk Mengembangkan Bisnis Tanpa Membebani Alam

Royal Golden Eagle (RGE) memiliki beberapa unit bisnis yang bergerak dalam industri yang berbeda. Mulai dari industri sawit, pulp dan kertas hingga viscose rayon, setiap unit bisnis RGE selalu memegang satu prinsip yang sama yakni keberlanjutan.

APRIL Group yang merupakan salah satu unit bisnis Sukanto Tanoto juga memegang prinsip yang sama. Meski dikenal sebagai salah saru produsen pulp dan kertas terbesar di dunia, APRIL Group selalu menerapkan praktek bisnis yang ramah lingkungan dan berbasis pada keberlanjutan lingkungan.

Dengan jumlah produksi tahunan mencapai 2,8 juta ton pulp dan 1,15 juta ton kertas, bisa dibayangkan berapa banyak pohon yang harus ditebang. Namun sebagai perusahaan yang memegang prinsip keberlanjutan, APRIL Grup menolak untuk mengambil bahan baku dari hutan alam. Sebagai gantinya, unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut memilih untuk menggunakan bahan baku yang berasal dari sumber-sumber terbarukan.

Namun untuk mengembangkan jumlah produksinya, jumlah bahan baku yang dibutuhkan jelas harus dikembangkan juga. Di sinilah letak permasalahannya. Namun alih-alih membuka lahan baru atau memilih untuk mengambil bahan baku dari sumber yang tidak jelas, APRIL Group memutuskan untuk meningkatkan efisiensi produksinya.

Kerinci Tissue Culture Laboratory Sebagai Pusat Inovasi PT RAPP

Untuk mencapai efisiensi tingkat lanjut, PT RAPP yang merupakan salah satu anak usaha APRIL Group membangun Kerinci Tissue Culture (KTC) Laboratory. Laboratorium ini diresmikan oleh Menristekdikti Mohamad Nasir pada 1 September 2019 lalu dan akan menjadi pusat inovasi khususnya dalam hal pembibitan eukaliptus.

Dalam laboratorium yang dibangun di kompleks PT RAPP ini, perusahaan akan melakukan riset sekaligus pembibitan eukaliptus dengan memanfaatkan teknologi jaringan. Dengan teknologi ini, unit bisnis Sukanto Tanoto tersebut mampu menghasilkan 100.000 bibit eukaliptus dari satu lembar daun.

Untuk menemukan bibit unggul, departemen RnD PT RAPP yang terdiri dari 125 peneliti akan meneliti dan menyeleksi klon bibit. Setelah mendapatkan bibit terbaik, bibit tersebut akan diperbanyak di Kerinci Tissue Culture Laboratory.

Proses produksi bibit eukaliptus di Kerinci Tissue Culture Laboratory dilakukan dengan 3 tahap, yakni multiplikasi, elongasi dan perakaran. Tahap multiplikasi merupakan tahapan di mana para peneliti akan memperbanyak tunas eukaliptus. Pada tahap elongasi, tunas tersebut akan ditumbuhkan hingga tinggi. Terakhir atau pada tahap perakaran, tanaman yang sudah tumbuh akan diinduksi agar bisa membentuk akar.

Sedikitnya ada 16 growth room yang ada di dalam fasilitas laboratorium Kerinci Tissue Culture. Dengan fasilitas inilah, laboratorium PT RAPP tersebut mampu menghasilkan sebanyak 36 juta bibit eukaliptus per tahun dengan karakter dan sifat yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, yakni cepat tumbuh, memiliki ketahanan tinggi terhadap hama dan penyakit serta memiliki sifat kayu yang sesuai.

Untuk membangun gedung Kerinci Tissue Culture Laboratory, perusahaan Sukanto Tanoto sedikitnya harus berinvestasi sebesar USD 5 juta. Semua itu adalah harga yang pantas dikeluarkan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mewujudkan industri yang lebih ramah lingkungan.